1.
Kerajaan
Peureulak
Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah dan
isterinya Putri Meurah Mahdum Khudawi keduanya merupakan pendiri kerajaan Islam
pertama di Asia Tenggara. Pendiri Kerajaan Perlak ini mangkat pada 864 Masehi
di Gampong Bandar Khalifah, Bandrong, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur Provinsi
Aceh.
Langkah pertama yang dilakukan Sultan Alaidin saat
mendirikan Kerajaan Perlak adalah mengubah nama Bandar Peureulak menjadi Bandar
Khalifah. Hal tersebut dilakukan guna menjauhi pengaruh Hindu yang saat itu
masih berkembang subur di Nusantara.
Sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara,
Kerajaan Perlak kian berjaya dengan letak pelabuhan yang strategis dan hasil
alam yang melimpah.
Pada tahun 956 kerajaan ini dirudung konflik akibat
ketegangan politik antara Sunni dan Syiah. Namun konflik ini berakhir dengan
perdamaian dan membuat Peureulak dipecah menjadi dua kerajaan. Pertama;
Kerajaan Peureulak Pesisir yang dipimpin oleh Sultan Alaidin Sayed Maulana
Abdul Aziz Syah. Kerajaan ini dipengaruhi oleh golongan Syiah.
Kedua; Kerajaan Peureulak Pedalaman yang dipimpin oleh
Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Kerajaan ini
dipengaruhi oleh Islam Sunni.
Tidak lama berpisah, dua kerajaan ini kemudian bersatu
kembali saat Kerajaan Budha Sriwijaya menyerang Peureulak pada tahun 988
Masehi. Dalam pertempuran tersebut Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah
meninggal dunia.
Kerajaan Pereulak kemudian dipimpin Sultan Makhdum
Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat yang melanjutkan peperangan melawan
Sriwijaya hingga tahun 1006 Masehi.
Meski muncul di awal-awal perkembangan Islam di Asia
Tenggara, namun Kerajaan Peureulak memiliki tamaddun (kebudayaan) tinggi.
Kerajaan ini memiliki angkatan perang, hubungan diplomatik luar negeri,
kemakmuran ekonomi dan pusat ilmu pengetahuan seperti dayah tertua di Asia
Tenggara. Dayah tersebut diberinama Zawiyah Cot Kala.
Setelah lama berjaya, Kerajaan Peureulak kemudian
mengalami kemunduran pada awal abad XIII. Sebagai penggantinya, muncul kerajaan
baru di ujung Sumatera yaitu Kerajaan Islam Samudera Pasai yang dipimpin oleh
Sultan Malikussaleh.
Hingga sekarang Peureulak dikenal sebagai “Mekkah” nya
Aceh karena menjadi cikal bakal Islam di daerah ini, sementara Samudera Pasai
dikenal sebagai “Kota Madinah” disebabkan sebagai kerajaan yang kemudian
menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara.
2. Kerajaan Samudera Pase
Sejarah kerajaan Samudra
Pasai, tidak terlepas dari Islamisasi Nusantara, khususnya di Sumatra. Karakteristik
agama Islam yang fleksibel dan dapat merakyat dikalangan masyarakat Indonesia
menjadi salah satu faktor pendukung masuknya Islam di Nusantara. Bahkan sampai
sekarang Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam,
Islamisasi itu sendiri berawal kira-kira
dari abad ke-7 sampai sekarang. Berita awal abad ke-16 M dari Tome pires dalam suma oriental (1512-1515) mengatakan
bahwa di Sumatra, telah banyak kerajaan islam baik yang besar maupun yang
kecil. (Soejono,R.P&Leirissa,R.Z,2008:21). Tetapi munculnya kerajaan
Samudra Pasai itu sendiri pada abad ke-13, antara tahun 1270-1275.
Samudra pasai sendiri didirikan oleh Sultan
Malik as-Saleh. Sulatan Malik as-Saleh sendiri mendirikan kerajaan Samudra
Pasai pada abad ke-13, dan menjadi raja pertama kerajaan Samudra Pasai, dan
wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, pada pemerintahannya masih belum terlihat
tanda-tanda kejayaan yang signifikan, namun pada pemerintahannya setidaknya
kerajaan Samudra pasai merupakan kerajaan yang besar dari wilayah Aceh
sendiri. letak kerajaan Samudra Pasai
kurang lebih 15 Km disebelah timur Lhoukseumawe, Nangroe Aceh. Diapit oleh
sungai besar yaitu sungai Peusungan dan sungai Jambo Aye, jelasnya
Kerajaan Samudra Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke
pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah. Letaknya yang sangat strategis membuat Samudra pasai menjadi kerajaan yang
besar dan berkembang pesat pada zaman itu.
Kerajaan ini terbentuk dari
kerajaan Samudra dan Pasai, samudra sebagai salah satu kerajaan yang dipimpin
oleh sultan Malik as-Saleh, dan kerajaan Pasai adalah sebuah kerajaan baru
setelah Samudra yang dibuka oleh Malik as-Saleh untuk putranya yang bernama
Malik az-Zahir.1(Gade I,M.1997:3)
Tumbuhnya kerajaan Islam
Samudra Pasai sendiri tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang
menjadi jalur pelayaran perdagangan internasional, yang membuatnya menjadi lalu
lalang pra pedagang asing. Juga menjadi tempat transmigrasi oleh para pedagang
asing, seperti Cina, Arab, India dan lain lain. Sebagai tempat jalur
perdagangan Samudra Pasai juga menjadi persinggahan budaya dan agama. Namun
tidak pula terlepas dari akulturasi budaya yang dihasilkan dari percampuran dua
budaya.
Telah diketahui bahwa masa
awal kerajaan Samudra Pasai ditandai dengan kepemimpinan sultan Malik as-Saleh
yang merupakan raja pertama kerajaan Samudra Pasai. Pasai sendiri merupakan
kerajaan yang besar pada saat itu, terbukti dengan reruntuhan-reruntuhan
kerajaan Pasai yang diperkirakan merupakan kerajaan yang besar pada masa itu.
Selain itu Pasai juga
merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara, bahkan pertama di Asia Tenggara,
yang merupakan pusat penyebaran pertama kali di Indonesia dan Asia Tenggara.
Selain sebagai kerajaan muslim yang pertama Pasai juga merupakan kerajaan yang
menjadi jalur perdagangan dan mempunyai Bandar-bandar perdagangan yang mampu
menyokong ekonomi ;pemerintahan.
Adapun pendapat mengenai raja-raja
Pasai, yaitu:
|
No.
|
Nama Raja
|
Tahun Pemerintahan
|
|
1.
|
Sultan Malik Al-Saleh
|
Sampai tahun 1297 M
|
|
2.
|
Muhammad Malik Al-Zahir
|
1297-1326 M
|
|
3.
|
Mahmud Malik Al-Zahir
|
1326-1345 M
|
|
4.
|
Manshur Malik Al-Zahir
|
1345-1346 M
|
|
5.
|
Ahmad Malik Al-Zahir
|
1346-1383 M
|
|
6.
|
Zain Al-Abidin Malik AL-Zahir
|
1383-1405 M
|
|
7.
|
Nahrasiyah
|
1402-? M
|
|
8.
|
Abu Zaid Malik Al-Zahir
|
?-1455 M
|
|
9.
|
Mahmud Malik Al-Zahir
|
1455-1477 M
|
|
10.
|
Zain Al-Abidin
|
1477-1500 M
|
|
11.
|
Abdullah Malik Al-Zahir
|
1501-1513 M
|
|
12.
|
Zain Al-Abidin
|
1513-1524 M
|
Di kedua pendapat tersebut terdapat kekosongan yang sampai saat ini masih
menjadi tanda Tanya, dan masih belum diketemukan.
Kembali kepada masa awal, masa awal kerjaan Samudra Pasai ini tergolong
tidak begitu terlihat. Selain itu perkembangan kerajaan ini bersifat
perlahan-lahan. Walaupun begitu mata uang telah dikenal di kerajaan ini, sejak
pemerintahan sultan Malik as-Saleh, yang dinami mata uang Dirham, yang juga
dikenal sebagai mata uang negara Arab saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar