Sabtu, 14 September 2013

tugas kita



1.     Kerajaan Peureulak

Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah dan isterinya Putri Meurah Mahdum Khudawi keduanya merupakan pendiri kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Pendiri Kerajaan Perlak ini mangkat pada 864 Masehi di Gampong Bandar Khalifah, Bandrong, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur Provinsi Aceh.
Langkah pertama yang dilakukan Sultan Alaidin saat mendirikan Kerajaan Perlak adalah mengubah nama Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah. Hal tersebut dilakukan guna menjauhi pengaruh Hindu yang saat itu masih berkembang subur di Nusantara.
Sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Kerajaan Perlak kian berjaya dengan letak pelabuhan yang strategis dan hasil alam yang melimpah.
Pada tahun 956 kerajaan ini dirudung konflik akibat ketegangan politik antara Sunni dan Syiah. Namun konflik ini berakhir dengan perdamaian dan membuat Peureulak dipecah menjadi dua kerajaan. Pertama; Kerajaan Peureulak Pesisir yang dipimpin oleh Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah. Kerajaan ini dipengaruhi oleh golongan Syiah.
Kedua; Kerajaan Peureulak Pedalaman yang dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Kerajaan ini dipengaruhi oleh Islam Sunni.
Tidak lama berpisah, dua kerajaan ini kemudian bersatu kembali saat Kerajaan Budha Sriwijaya menyerang Peureulak pada tahun 988 Masehi. Dalam pertempuran tersebut Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah meninggal dunia.
Kerajaan Pereulak kemudian dipimpin Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat yang melanjutkan peperangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006 Masehi.


Meski muncul di awal-awal perkembangan Islam di Asia Tenggara, namun Kerajaan Peureulak memiliki tamaddun (kebudayaan) tinggi. Kerajaan ini memiliki angkatan perang, hubungan diplomatik luar negeri, kemakmuran ekonomi dan pusat ilmu pengetahuan seperti dayah tertua di Asia Tenggara. Dayah tersebut diberinama Zawiyah Cot Kala.
Setelah lama berjaya, Kerajaan Peureulak kemudian mengalami kemunduran pada awal abad XIII. Sebagai penggantinya, muncul kerajaan baru di ujung Sumatera yaitu Kerajaan Islam Samudera Pasai yang dipimpin oleh Sultan Malikussaleh.
Hingga sekarang Peureulak dikenal sebagai “Mekkah” nya Aceh karena menjadi cikal bakal Islam di daerah ini, sementara Samudera Pasai dikenal sebagai “Kota Madinah” disebabkan sebagai kerajaan yang kemudian menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara.


  
  
2.     Kerajaan Samudera Pase
Sejarah kerajaan Samudra Pasai, tidak terlepas dari Islamisasi Nusantara, khususnya di Sumatra. Karakteristik agama Islam yang fleksibel dan dapat merakyat dikalangan masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor pendukung masuknya Islam di Nusantara. Bahkan sampai sekarang Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Islamisasi itu sendiri berawal  kira-kira dari abad ke-7 sampai sekarang. Berita awal abad ke-16 M dari Tome pires dalam suma oriental (1512-1515) mengatakan bahwa di Sumatra, telah banyak kerajaan islam baik yang besar maupun yang kecil. (Soejono,R.P&Leirissa,R.Z,2008:21). Tetapi munculnya kerajaan Samudra Pasai itu sendiri pada abad ke-13, antara tahun 1270-1275.
 Samudra pasai sendiri didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh. Sulatan Malik as-Saleh sendiri mendirikan kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13, dan menjadi raja pertama kerajaan Samudra Pasai, dan wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, pada pemerintahannya masih belum terlihat tanda-tanda kejayaan yang signifikan, namun pada pemerintahannya setidaknya kerajaan Samudra pasai merupakan kerajaan yang besar dari wilayah Aceh sendiri.  letak kerajaan Samudra Pasai kurang lebih 15 Km disebelah timur Lhoukseumawe, Nangroe Aceh. Diapit oleh sungai besar yaitu sungai Peusungan dan sungai Jambo Aye, jelasnya Kerajaan Samudra Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah. Letaknya yang sangat strategis membuat Samudra pasai menjadi kerajaan yang besar dan berkembang pesat pada zaman itu.
Kerajaan ini terbentuk dari kerajaan Samudra dan Pasai, samudra sebagai salah satu kerajaan yang dipimpin oleh sultan Malik as-Saleh, dan kerajaan Pasai adalah sebuah kerajaan baru setelah Samudra yang dibuka oleh Malik as-Saleh untuk putranya yang bernama Malik az-Zahir.1(Gade I,M.1997:3)
Tumbuhnya kerajaan Islam Samudra Pasai sendiri tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang menjadi jalur pelayaran perdagangan internasional, yang membuatnya menjadi lalu lalang pra pedagang asing. Juga menjadi tempat transmigrasi oleh para pedagang asing, seperti Cina, Arab, India dan lain lain. Sebagai tempat jalur perdagangan Samudra Pasai juga menjadi persinggahan budaya dan agama. Namun tidak pula terlepas dari akulturasi budaya yang dihasilkan dari percampuran dua budaya.


Telah diketahui bahwa masa awal kerajaan Samudra Pasai ditandai dengan kepemimpinan sultan Malik as-Saleh yang merupakan raja pertama kerajaan Samudra Pasai. Pasai sendiri merupakan kerajaan yang besar pada saat itu, terbukti dengan reruntuhan-reruntuhan kerajaan Pasai yang diperkirakan merupakan kerajaan yang besar pada  masa itu.
Selain itu Pasai juga merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara, bahkan pertama di Asia Tenggara, yang merupakan pusat penyebaran pertama kali di Indonesia dan Asia Tenggara. Selain sebagai kerajaan muslim yang pertama Pasai juga merupakan kerajaan yang menjadi jalur perdagangan dan mempunyai Bandar-bandar perdagangan yang mampu menyokong ekonomi ;pemerintahan.

Adapun pendapat  mengenai raja-raja Pasai, yaitu:
No.
Nama Raja
Tahun Pemerintahan
1.
Sultan Malik Al-Saleh
Sampai tahun 1297 M
2.
Muhammad Malik Al-Zahir
1297-1326 M
3.
Mahmud Malik Al-Zahir
1326-1345 M
4.
Manshur Malik Al-Zahir
1345-1346 M
5.
Ahmad Malik Al-Zahir
1346-1383 M
6.
Zain Al-Abidin Malik AL-Zahir
1383-1405 M
7.
Nahrasiyah
1402-? M
8.
Abu Zaid Malik Al-Zahir
?-1455 M
9.
Mahmud Malik Al-Zahir
1455-1477 M
10.
Zain Al-Abidin
1477-1500 M
11.
Abdullah Malik Al-Zahir
1501-1513 M
12.
Zain Al-Abidin
1513-1524 M

Di kedua pendapat tersebut terdapat kekosongan yang sampai saat ini masih menjadi tanda Tanya, dan masih belum diketemukan.

Kembali kepada masa awal, masa awal kerjaan Samudra Pasai ini tergolong tidak begitu terlihat. Selain itu perkembangan kerajaan ini bersifat perlahan-lahan. Walaupun begitu mata uang telah dikenal di kerajaan ini, sejak pemerintahan sultan Malik as-Saleh, yang dinami mata uang Dirham, yang juga dikenal sebagai mata uang negara Arab saat itu.